I’ve been thinking about this cake for months now and it’s finally hereeee!! My friend was so happy when she saw the cake. It’s the prettiest cake she ever got and it’s PINK. Hahahaha I’m so glad she likes it ;D
-a pink ombre cake for vanissakaris-
salahkah aku masih menunggu?
Tak ada hal lain yang pantas kutanyakan selain kabarmu. Aku ingin mendengar berita baik tentangmu. Aku ingin cerita penuh tawa dari balik bibirmu. Kautahu? Aku sangat merindukanmu! Aku rindu saat-saat kamu menjambak kasar rambutku. Aku rindu saat kau setengah berteriak memanggil namaku. Aku rindu melihatmu kesakitan karena penyakitmu. Bukan berarti aku jahat, Sayang. Saat kausakit, saat kaukehilangan kesadaran, itulah saat-saat aku bisa menjadi pahlawan, itulah saat-saat aku merasa kehadiranku sangat kaubutuhkan.
Sekarang, penyakitku tak lagi separah dulu. Aku bukan lagi gadis manja yang butuh supir dan pengawal pribadi. Aku bukan lagi perempuan kecil yang harus bersembunyi-sembunyi untuk merasakan kehidupan menjadi rakyat biasa. Aku bukan lagi wanita bodoh yang menyerah pada penyakitku. Sayang, kauharus tahu kalau aku lebih kuat daripada kamu. Kauharus mengerti bahwa fisikku tak selemah kamu. Kautentu sangat ingin belajar banyak denganku kan! Ah, aku tau, Sayang, kamu tentu juga merindukanku.
Wajahmu yang tolol itu benar-benar tak bisa kulupakan. Saat TransJogja melaju perlahan, saat hanya aku dan kamu yang jadi penumpangnya. Aku yang duduk di bangku seberang mencuri-curi pandang ke arah shelter yang sudah tertinggal di belakang, mencari-cari sosok pengawalku yang mengejarku dan kelelahan mencariku. Aku kelelahan dan menarik nafas berkali-kali dan entah mengapa kamu juga melakukan hal yang sama. Tapi, ada yang aneh denganmu, kamu memegang dadamu dan membuka tutup mulutmu berkali-kali, sepertinya kamu tidak kelelahan! Dalam persepsiku, kamu sulit untuk bernafas! Dengan gerak refleks, aku mengeluarkan inhaler* milikku lalu menyemprotkannya ke mulutmu. Aku tak sadar dengan apa yang kulakukan, dengan tindakan sok tahu aku lancang saja memasukan inhaler ke mulutmu. Atas asas setengah sadar, kamu menyandarkan kepalamu di bahuku. Sungguh, jantungku sepertinya ingin melompat keluar karena tindakanmu yang mengagetkan. Tiba-tiba saja kaumembisik di telingaku, “Terimakasih. Untungnya kamu bawa inhaler, kalau tidak, pasti esok hari akan ada berita tentang seorang pria yang meninggal tanpa sebab di TransJogja, Harian Jogja pasti memasang fotoku di halaman depan. HEHEHE, siapa namamu?”
Ah, sungguh… perkenalan awal kita benar-benar jauh dari kata normal. Berawal dari inhaler, berlanjut menuju pertemuan-pertemuan absurd yang kita rancang secara tersembunyi. Apakah kauingat bagaimana usahaku dan usahamu hanya untuk saling bertemu dan memandang? Apakah kaumasih tertawa ketika kuceritakan tentang pengawalku yang sempoyongan mencariku? Tawa kita pecah, memang saat denganmu aku bisa menemukan diriku yang sempat hilang. Saat aku bebas menatapmu, itulah bahagia dalam persepsiku. Kita memang tak pernah tahu kalau Tuhan punya rencana selucu ini. Kita juga tak mampu mereka-reka apalagi menerka-nerka maksud Tuhan mempertemukan kita. Aku dan kamu hanya bisa menjalani yang ada. Kita hanya bisa bersembunyi dari balik dunia yang mengekangmu dan mengekangku dengan begitu jahatnya. Aku terkekang karena penyakitku, kamu pun terkekang karena penyakitmu.
Sayang… kau tahu apa yang kurasakan saat menulis ini? Aku hanya merasakan perasaan aneh yang menjalar nakal di tubuhku, perasaan yang menemani sepi dan malam-malamku, perasaan yang setia bersamaku saat tak ada kamu di sampingku, perasaan itu sering kita sebut rindu. Kalau boleh jujur dan kalau kamu tidak marah, aku ingin mengatakan satu hal padamu: Aku sangat merindukanmu dan aku sangat ingin masa-masa itu kembali lagi. Aku rindu saat kita mengelilingi kota Yogyakarta dengan kaki kita sendiri. Aku rindu mengitari kota Yogyakarta diiringi dengan teriknya matahari. Sayang, bukankah kamu juga merindukan masa-masa itu? Saat-saat kita tak dikekang, saat-saat kita tak memerlukan supir dan mobil mewah, dan saat-saat kita bisa bahagia dengan meninggalkan kemewahan yang kita punya. Bukankah panas-panasan bersamamu jauh lebih menarik daripada harus berdiam diri di dalam mobil ber-ac?
Setelah memabaca ini, rindukah kamu dengan masa-masa itu? Rindukah kamu dengan aku yang selalu menyediakan waktu untuk bertemu denganmu? Sayang, kenapa kautak pernah bercerita tentang kronisnya penyakitmu? Rasanya sangat menyedihkan kalau kita terus membicarakan mimpi-mimpi kita sementara kita tak membicarakan realita yang ada. Rasanya terlalu jahat kalau aku membuka diri terhadapmu sedangkan kamu menyembunyikan dirimu dariku. Rasanya terlalu tidak adil kalau Tuhan lebih dulu memanggilmu sebelum Dia memanggilku.
Mataku memang bengkak dan tahu siapa orang yang sangat pantas disalahkan atas bengkaknya mataku? Tentu saja kamu! Kenapa kamu tidak pamit? Kenapa pergi tidak bilang-bilang? Kaubahkan tak memberitahuku waktu kepulangamu. Entahlah… aku tak mengerti kenapa kau harus pergi. Aku juga semakin tak mengerti apa mauNya Tuhan. Aku semakin tak mengerti jalan pikiranNya. Satu hal yang kutahu, aku dan kamu memang milikNya, dan hanya Dia yang punya kehendak untuk memanggil kita pulang dan kembali.
Aku masih mempercayai janjimu, bahwa kamu tidak akan meninggalkanku, bahwa setiap kita berpisah pasti kita akan bertemu lagi. Sayang… aku menunggumu. Atau kamu saja yang menungguku?
Tolong titip salam pada Tuhan, katakan padaNya untuk tetap setia mendengar doaku. Doaku setiap hari selalu sama, entah kapan, entah digariskan kapan, aku pasti aku menemani kamu, dan kamu tidak akan lagi kesepian.
dari wanitamu
yang masih menunggu kepulanganmu
with love :)
—
#love
(via s-undayevenings)
(Source: gucccccci, via wanna-bang)
(via s-undayevenings)




